Bookmark and Share
Mari mampir....

Clock

Monday, January 3, 2011

Catatan akhir tahun, "Asia on fire"

Tahun 2010 merupakan tahun yang paling membahagiakan bagi masyarakat di seantero Asia. Bagaimana tidak, selama beberapa tahun terakhir Asia menjadi terkenal lantaran imun terhadap sergapan krisis global.

Sang super power Amerika Serikat jatuh terkapar dan terpaksa merengek kepada saudara-saudara tuanya di Eropa agar mau mengikuti keinginan the Fed dengan dalih untuk kepentingan bersama, padahal apalagi kalau bukan untuk kepentingan Amerika semata.

Sudah main keroyokan, perekonomian Eropa maupun AS pun tak kunjung membaik.....malah permasalahan semakin bertumpuk-tumpuk dan menjadi-jadi seolah tak mau berhenti.

Eropa yang sudah muak dan enggan disetir Amerika, mulai melawan...setidaknya sedikit saja...walau akhirnya terpaksa ikut jua....

China dan India muncul sebagai kekuatan ekonomi dunia baru walau belum secara resmi tercatat, dan mengukuhkan dominasi Asia sekali lagi setelah dalam kurun 100 tahun terakhir terkubur oleh hegemoni barat.

Ya....sekarang bukan saatnya Barat lagi...tapi Asia.

Seolah tak mau kalah....Indonesia tampil sebagai kekuatan ekonomi Asia tenggara baru setelah lebih kurang 12 tahun lalu terpuruk sejadi-jadinya akibat krisis ekonomi Asia yang berujung kepada jatuhnya kekuasaan orde baru.

Menurut ekonom Standchart, Gerard Lyons (seperti dikutip dari vivanews) Indonesia yang saat ini menduduki peringkat ke-18 kemungkinan besar akan merengsek masuk ke lima besar dunia, hanya dalam jangka waktu 20 tahun saja. WOW

Pergeseran kekuatan ekonomi ini tentu saja tidak menggunakan jasa dukun, walau banyak negara barat mengklaim orang Asia doyan dengan hal-hal yang berbau klenik dan perdukunan. Semua ini didapat berkat kerja keras dan peluang yang tersedia semakin terbuka dan setara, berbeda dengan 50 tahun lalu ketika semua akses informasi dan teknologi hanya bisa diakses oleh orang Barat.

Apakah terkaman Asia akan berhenti sampai disitu saja.....tentu tidak...semuanya akan sangat bergantung kepada pribadi masing-masing umat Asia, apakah mau bersatu atau mau menang dan berkuasa sendiri.

Meskipun Asia tampil impresif dipercaturan ekonomi-politik dunia, tidak menjamin hal ini akan berlangsung lama atau semanis tulisan ini. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah "siapkah Asia"???

Melonjaknya perekonomian Asia tidaklah didukung oleh sikap mental yang mapan dan stabil. Ambil contoh China, yang akselerasi ekonominya terbilang cepat dibandingkan Amerika sekalipun, justru tidak mampu mensejahterakan masyarakatnya. Jumlah penduduk masih membludak, pengangguran berserakan, pendidikan yang hanya bisa diakses orang-orang tertentu, rasio antara masyarakat kaya dan miskin terlalu tinggi, tingkat upah rendah, tidak ada kesejahteraan dan banyak lagi.

Tentu saja kondisi-kondisi diatas tidak hanya dialami China, tapi juga dialami India, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Lalu pertanyaan berikutnya "Apa guna pertumbuhan tinggi, tapi tidak berimbas kepada rakyat?". Jawabannya tentu saja kondisional, bergantung kepada kebutuhan.

Tengoklah Barat, kemajuan yang mereka capai sudah dipupuk sejak ratusan tahun lalu. Mereka percaya bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang sejahtera, bukan sebaliknya. Pemerintah Barat berlomba-lomba memberikan fasilitas terbaik untuk bangsanya agar prestasi yang mereka capai dapat dipertahankan selama-lamanya. Visi inilah yang merubah Barat ketika masuk zaman Renaissance.

Apakah Asia sudah siap berbagi??? siap untuk tidak egois??? siap untuk maju bersama-sama??

Apapun itu, hendaklah prestasi dibidang ekonomi selayaknya dibarengi dengan bukti-bukti kongkret, pemerintah tidak hanya menumpuk uang dan kemudian mendepositkannya, menunggu bunga dan sama sekali tidak digunakan untuk kepentingan rakyat, seperti memperbaiki infrastruktur, meningkatkan layanan dan mempermudah urusan administrasi rakyat, bukan membuatnya semakin berbelit-belit, memperbaiki moda transportasi yang aman, selamat dan murah.

Sikap mental yang tidak disiplin pasti akan berubah seiring membaiknya kondisi perekonomian. Sikap mental positif tidak datang dengan sendirinya, semuanya bergantung kepada lingkungan yang membentuk. Jika ingin masyarakat disiplin maka sejahterakanlah mereka.

"Selamat tahun baru 2011 dan semoga tahun depan semakin baik lagi"

No comments:

your ads